Kode Pos Seluruh Indonesia Tahun 2024

Provinsi, Kota/Kabupaten, Kecamatan/Distrik, Kelurahan/Desa


Cari Kode Pos atau Nama Daerah


Saat ini kami memiliki 81248 data kode pos dari seluruh indonesia, terdiri dari 38 Provinsi, 416 kabupaten, 98 kota, 7.094 kecamatan, 8.506 kelurahan, dan 74.961 desa

Daftar Kode Pos Provinsi Sumatera Selatan


No Provinsi Kabupaten Kecamatan Kelurahan/Desa Kode Pos
1 SUMATERA SELATAN PALEMBANG ILIR TIMUR II 10 ILIR 30111
2 SUMATERA SELATAN PALEMBANG ILIR TIMUR II DUKU 30111
3 SUMATERA SELATAN PALEMBANG ILIR TIMUR II KUTO BATU 30111
4 SUMATERA SELATAN PALEMBANG ILIR TIMUR II LAWANG KIDUL 30111
5 SUMATERA SELATAN PALEMBANG ILIR TIMUR II SUNGAI BUAH 30111
6 SUMATERA SELATAN PALEMBANG ILIR TIMUR II 11 ILIR 30112
7 SUMATERA SELATAN PALEMBANG ILIR TIMUR II 9 ILIR 30113
8 SUMATERA SELATAN PALEMBANG ILIR TIMUR II 8 ILIR 30114
9 SUMATERA SELATAN PALEMBANG KALIDONI BUKIT SANGKAL 30114
10 SUMATERA SELATAN PALEMBANG ILIR TIMUR II 5 ILIR 30115
Halaman 1 dari 315

Sekilas mengenai Provinsi Sumatera Selatan


Sekitar abad ke-7 M, sebuah kerajaan Buddha kuno bernama Sriwijaya didirikan di daerah yang sekarang disebut Palembang. Kerajaan ini menjadi pusat perdagangan dan merupakan kekuatan maritim, namun kerajaan ini tidak memperluas kekuasaannya ke luar kepulauan Asia Tenggara, kecuali menyumbang penduduk Madagaskar sejauh 3.300 mil sebelah barat. Beberapa ahli masih memperdebatkan kawasan yang merupakan pusat Kerajaan Sriwijaya.[11] Kemungkinan besar kerajaan tersebut dahulu memindahkan pusat administrasinya, namun ibu kotanya tetap diperintah langsung oleh penguasa, sedangkan wilayah pendukungnya diperintah oleh datuk setempat.[12][13] Pada abad ke-7, bangsa Tionghoa mencatat terdapat dua kerajaan yakni Melayu dan Kedah yang merupakan bagian dari kerajaan Sriwijaya.[7] Kerajaan Sriwijaya sudah ada sejak tahun 671 menurut catatan Tionghoa Biksu Buddha Yijing. Dari prasasti Kedukan Bukit tahun 682, kerajaan ini mulai dikenal di bawah pimpinan Dapunta Hyang. Bahwa beliau berangkat dalam perjalanan suci siddhayatra untuk "mengambil berkah", dan memimpin 20.000 prajurit dan 312 orang di dalamnya dengan 1.312 prajurit berjalan kaki dari Minanga Tamwan ke Jambi dan Palembang. Prasasti Kedukan Bukit konon merupakan prasasti tertua yang ditulis dalam bahasa Melayu. Para ahli berpendapat bahwa penulis prasasti ini mengadaptasi ortografi India.[14] Berdasarkan Prasasti Kota Kapur bertanggal 686 Masehi yang ditemukan di Pulau Bangka, kerajaan ini pernah mendominasi Pulau Sumatera bagian Selatan, pulau Bangka dan Belitung, ke Lampung. Prasasti ini juga menyebutkan bahwa Kaisar Sri Jayanasa melancarkan ekspedisi militer untuk menghukum kerajaan Bhumi Jawa yang tidak setia kepada Sriwijaya, peristiwa ini bertepatan dengan runtuhnya Tarumanagara di Jawa Barat dan Holing (Kalingga) di Jawa Tengah, yang kemungkinan besar disebabkan oleh serangan Sriwijaya. Mungkin juga kerajaan Bhumi Jawa yang disebutkan dalam prasasti tersebut merujuk pada Kerajaan Tarumanegara.[15] Sriwijaya terus berkembang dan berhasil menguasai jalur perdagangan laut di Selat Malaka, Selat Sunda, Laut Cina Selatan, Laut Jawa dan Selat Karimata. Patung Buddha gaya Amaravati yang dipajang di Museum Sultan Mahmud Badaruddin II di Palembang, kemungkinan berasal dari zaman Sriwijaya Perluasan kerajaan ini ke Jawa dan Semenanjung Melayu, memungkinkan Sriwijaya menguasai jalur perdagangan utama di Asia Tenggara. Arkeolog menemukan reruntuhan candi Sriwijaya hingga Thailand dan Kamboja. Pada abad ke-7, pelabuhan Champa di Indochina timur mulai mengalihkan para pedagang dari Sriwijaya. Untuk mencegah hal ini, Maharaja Dharmasetu melancarkan beberapa serangan terhadap kota-kota pesisir di Indochina. Kota Indrapura di tepi sungai Mekong direbut oleh Sriwijaya pada awal abad ke-8. Sriwijaya melanjutkan dominasinya di Kamboja, sampai raja Khmer Jayawarman II, pendiri Kekaisaran Khmer, memutuskan hubungan dengan Sriwijaya pada abad yang sama.[7] Pada akhir abad ke-8 beberapa kerajaan di Jawa, antara lain Tarumanegara dan Holing, berada di bawah kekuasaan Sriwijaya. Menurut catatan, pada periode tersebut orang Sailendra merantau ke Jawa Tengah dan memerintah di sana. Pada abad yang sama, kerajaan Langkasuka di semenanjung Melayu menjadi bagian dari kerajaan tersebut.[7] Pada periode berikutnya, Pan Pan dan Trambralinga, yang terletak di utara Langkasuka, juga berada di bawah pengaruh Sriwijaya. Berdasarkan catatan sejarah dari Arabia, Sriwijaya disebut Sribuza. Pada tahun 955 M, Al Masudi, seorang musafir dan sejarawan Arab klasik menulis tentang Sriwijaya, menggambarkannya sebagai kerajaan besar yang kaya raya, dengan banyak prajurit. Sriwijaya memproduksi Kapur barus, gaharu, cengkeh, Cendana, pala, kapulaga dan Gambir.[16] Catatan lain dari seorang ahli Persia bernama Abu Zaid Hasan yang mendapat informasi dari Sujaimana, seorang pedagang Arab, bahwa kerajaan tersebut sudah maju dalam bidang pertanian. Abu Zaid menulis bahwa kerajaan Zabaj (nama Arab lain untuk Sriwijaya) memiliki tanah yang subur dan kekuasaan yang luas hingga ke seberang lautan.[17] Sriwijaya menguasai jalur perdagangan maritim di Asia Tenggara sepanjang abad ke-10, namun pada akhir abad tersebut Kerajaan Medang di Jawa Timur tumbuh menjadi kekuatan maritim baru dan mulai menantang dominasi Sriwijaya. Berita Tionghoa dari Dinasti Song menyebut nama Kerajaan Sriwijaya di Sumatera San-fo-tsi, sedangkan Kerajaan Medang di Jawa dengan nama She-po. Dikatakan bahwa San-fo-tsi dan She-po terlibat dalam persaingan untuk menguasai Asia Tenggara. Kedua negara saling mengirimkan duta besarnya ke Tiongkok. Duta Besar San-fo-tsi yang berangkat pada tahun 988 ditahan di Kanton ketika ia kembali, karena negaranya diserang oleh pasukan Jawa. Penyerangan dari Pulau Jawa ini diduga terjadi sekitar tahun 990an, antara tahun 988 dan 992 pada masa pemerintahan Sri Cudamani Warmadewa.[18] Prasasti Talang Tuo yang berasal dari abad ke-7 Masehi Kerajaan Medang berhasil merebut Palembang pada tahun 992 untuk sementara waktu, namun kemudian pasukan Medang berhasil dipukul mundur oleh pasukan Sriwijaya. Prasasti Hujung Langit tahun 997 menyebutkan serangan Jawa di Sumatra. Rentetan serangan dari Jawa ini akhirnya gagal karena Jawa gagal membangun pijakan di Sumatera. Merebut ibu kota Palembang saja tidak cukup karena Sriwijaya menyebar di beberapa kota pelabuhan di Selat Malaka. Kaisar Sriwijaya, Sri Cudamani Warmadewa, melarikan diri dari ibu kota dan berkeliling mendapatkan kembali kekuatan dan bala bantuan dari sekutu dan raja bawahannya serta berhasil memukul mundur angkatan laut Jawa. Pada tahun 1025, kekaisaran ini dikalahkan oleh Kekaisaran Chola (pada masa Kaisar Rajendra Chola I) di India selatan.[19][20] Kerajaan Chola telah menaklukkan wilayah jajahan Sriwijaya seperti wilayah Kepulauan Nikobar dan sekaligus berhasil menangkap raja Sriwijaya yang berkuasa Sangrama-Vijayottunggawarman. Pada dekade-dekade berikutnya, seluruh kerajaan Sriwijaya berada di bawah pengaruh Dinasti Chola. Rajendra Chola I memberikan kesempatan kepada raja-raja yang ditaklukkannya untuk tetap berkuasa namun tetap tunduk padanya.[21] Ibu kota Sriwijaya akhirnya berpindah ke utara menuju Jambi. Hal ini dapat dikaitkan dengan berita delegasi San-fo-ts'i ke Tiongkok pada tahun 1028. Faktor kemunduran Sriwijaya lainnya adalah faktor alam. Akibat sedimentasi lumpur di Sungai Musi dan beberapa anak sungai lainnya, kapal dagang yang tiba di Palembang berkurang.[22] Akibatnya kota palembang semakin menjauh dari laut dan tidak strategis. Akibat kedatangan kapal dagang tersebut, pajak mengalami penurunan dan melemahkan perekonomian dan kedudukan Sriwijaya.[17] Menurut buku Tiongkok Dinasti Song Zhu Fan Zhi,[23] ditulis sekitar tahun 1225 oleh Zhao Rugua, dua kerajaan terkuat dan terkaya di kepulauan Asia Tenggaran adalah Sriwijaya dan Jawa (Kediri), dengan bagian barat (Sumatera, Semenanjung Malaya, dan Jawa bagian barat/Sunda) di bawah kekuasaan Sriwijaya dan bagian timur di bawah kekuasaan Kediri. Dikatakan bahwa masyarakat di Jawa menganut dua agama, Budha dan agama Brahmana (Hinduisme), sedangkan masyarakat Sriwijaya menganut agama Budha. Buku tersebut menggambarkan masyarakat Jawa sebagai orang yang pemberani, pemarah dan mau berkelahi. Ia juga mencatat hiburan favorit mereka seperti sabung ayam dan adu babi. Koin yang digunakan sebagai mata uang terbuat dari campuran tembaga, perak, dan timah. Sriwijaya tetap menjadi kekuatan laut yang tangguh hingga abad ke-13.[7] Menurut George Cœdès, pada akhir abad ke-13, kekaisaran "telah tidak ada lagi... disebabkan oleh tekanan simultan di dua sisinya yaitu Siam dan Jawa."[24]:204,243 Namun, terjadi kekosongan kekuasaan di wilayah tersebut karena tidak ada kekuatan besar yang menguasai wilayah tersebut kecuali Kekaisaran Majapahit yang semakin melemah, yang berpusat di Pulau Jawa. Kekosongan ini memungkinkan perompak berkembang biak di wilayah tersebut. Setelah ditaklukkan oleh Majapahit pada tahun 1375 M, wilayah Palembang dijadikan wilayah bawahan Kerajaan Majapahit, di bawah pimpinan Hayam Wuruk. Pemerintahan di Palembang diserahkan kepada seorang bupati yang diangkat langsung oleh Majapahit. Namun permasalahan internal di Kerajaan Majapahit mengalihkan perhatian mereka dari wilayah taklukan, menyebabkan wilayah palembang dikuasai oleh para pedagang dari Tiongkok. Hingga Majapahit kembali menguasai Palembang setelah mengirimkan seorang panglima bernama Arya Damar. Kesultanan Palembang Artikel utama: Kesultanan Palembang Sultan Mahmud Badaruddin II dari Palembang memimpin pemberontakan melawan Belanda pada abad ke-19. Pada akhirnya, dia dikalahkan dan diasingkan ke Maluku. Sekarang ia diperingati sebagai Pahlawan Nasional Indonesia. Pada akhir abad ke-15, Islam telah menyebar ke seluruh wilayah, menggantikan agama Budha dan Hindu sebagai agama dominan. Sekitar awal abad ke-16, Tomé Pires, seorang petualang dari Portugal, mengatakan bahwa Palembang telah dipimpin oleh seorang Patih (bupati) yang ditunjuk dari Jawa yang kemudian dirujuk ke Kesultanan Demak dan ikut menyerang Malaka, yang pada saat itu telah dikuasai oleh Portugis. Pada tahun 1659, Sri Susuhunan Abdurrahman memproklamirkan berdirinya Kesultanan Palembang. Kesultanan Palembang berdiri selama hampir dua abad, yaitu pada tahun 1659 hingga tahun 1825. Sultan Ratu Abdurrahman Kholifatul Mukminin Sayidul Iman, atau Sunan Cinde Walang, adalah raja pertama Kesultanan Palembang. Masa pemerintahan Sultan Muhammad Bahauddin (1776–1803) dikenal sebagai masa keemasan Kesultanan Palembang, perekonomian kesultanan meningkat tajam karena adanya perdagangan, termasuk dengan VOC. VOC kesal dengan monopoli perdagangan Sultan Bahauddin yang menyebabkan kontrak mereka sering ditolak. Sultan Bahauddin lebih suka berdagang dengan Inggris, Tiongkok dan Orang Melayu di Riau. Dampak dari kebijakan tersebut menghasilkan kekayaan yang sangat besar bagi kekaisaran. Kesultanan Palembang mempunyai letak yang strategis dalam melakukan hubungan dagang, terutama bumbu dengan pihak luar. Kesultanan Palembang juga menguasai Kepulauan Bangka-Belitung yang mempunyai tambang timah dan diperdagangkan sejak abad ke-18.[25] Ketika Perusahaan Hindia Timur Belanda meningkatkan pengaruhnya di wilayah tersebut, Kesultanan mulai mengalami kemunduran dan kehilangan kekuasaannya. Selama Perang Napoleon pada tahun 1812, sultan pada saat itu, Mahmud Badaruddin II menolak klaim kedaulatan Inggris. Inggris, di bawah Stamford Raffles menanggapinya dengan menyerang Palembang, memecat istana, dan mengangkat adik laki-laki sultan yang lebih kooperatif, Najamuddin naik takhta. Belanda berusaha memulihkan pengaruhnya di istana pada tahun 1816, namun Sultan Najamuddin tidak mau bekerja sama dengan mereka. Sebuah ekspedisi yang dilancarkan Belanda pada tahun 1818 dan menangkap Sultan Najamudin serta mengasingkannya ke Batavia. Sebuah garnisun Belanda didirikan pada tahun 1821, tetapi sultan mencoba melakukan serangan dan meracuni garnisun secara massal, yang diintervensi oleh Belanda. Mahmud Badaruddin II diasingkan ke Ternate, dan istananya dibakar habis. Kesultanan ini kemudian dihapuskan oleh Belanda dan pemerintahan kolonial langsung didirikan.[26] Peta Keresidenan Palembang pada 1909 Pendudukan Jepang dan Kemerdekaan Sumatera Selatan diduduki oleh Jepang pada tanggal 15 Januari 1942, setelah Pertempuran Palembang di Perang Dunia II.[27] Setelah Proklamasi Kemerdekaan Indonesia, Sumatera Selatan menjadi bagian dari Provinsi Sumatera sebagai keresidenan dengan Adnan Kapau Gani sebagai residennya. Pada tanggal 1 Januari 1947, Belanda berusaha merebut kembali kedaulatannya atas Sumatera Selatan dengan menyerbu Palembang dan terjadilah pertempuran di seluruh Sumatera Selatan hingga kemerdekaan Indonesia diakui oleh Belanda pada tanggal 27 Desember 1949. Wilayah yang diduduki Belanda di Sumatera Selatan dimasukkan ke dalam Negara Sumatera Selatan di bawah Republik Indonesia Serikat sampai pembubaran serikat pekerja dan berdirinya republik. Pemekaran provinsi pasca kemerdekaan Pada tanggal 12 September 1950 berdirilah Provinsi Sumatera Selatan dengan wilayah yang jauh lebih luas dibandingkan sekarang, karena mencakup sepertiga bagian selatan pulau Sumatera yang meliputi wilayah yang akhirnya dibentuk menjadi provinsi-provinsi tersendiri: Lampung diukir dari bagian selatan provinsi pada tahun 1964, Bengkulu dari pesisir barat provinsi pada tahun 1967, dan Bangka Belitung pada tanggal 4 Desember 2000.[28]
Data diambil dari WikiPedia.

Peta Provinsi Sumatera Selatan


Kode Pos Surabaya - Kode Pos Jember - Kode Pos Jakarta - Kode Pos Bandung - Kode Pos Yogyakarta - Kode Pos Semarang - Kode Pos Aceh - Kode Pos Mataram - Kode Pos Denpasar - Kode Pos Pasuruan - Kode Pos Lumajang - Kode Pos Ambon - Kode Pos Minahasa Selatan - Kode Pos Banyuwangi - Kode Pos Bali - Kode Pos Banjarmasin - Kode Pos Pangkal Pinang - Kode Pos Maluku - Kode Pos Medan - Kode Pos Bekasi - Kode Pos Manokwari - Kode Pos Manado - Kode Pos PALANGKA RAYA - Kode Pos Jambi - Kode Pos Pekan Baru - Kode Pos Gorontalo - Kode Pos Bogor - Kode Pos Sukoreno - Kode Pos Situbondo